Puasa Sunnah

Puasa Ramadhan telah lewat, kita hanya bisa berdoa agar amal-amal kita ketika Ramadhan diterima oleh Alloh. Maka orang yang tidak diampuni pada bulan Ramadhan adalah orang yang merugi dan diharamkan untuk mendapat kebaikannya, sebagaimana sabda Rosululloh: “Celakalah seseorang yang menemui bulan Ramadhan, dan ketika bulan Ramadhan berlalu, dia tidak diampuni (dosa-dosanya)” (HR.Ahmad). Akan tetapi Alloh Maha Adil dan Maha Penyayang serta mengiginkan kebaikan atas hamba-hamba-Nya, maka Alloh mensyariatkan puasa sunah sebagai penambah pahala dan penutup kekurangan yang terdapat pada puasa wajib.

Begitu juga disunahkan agar tidak kosong satu bulanpun dari puasa, sebagaimana ketika Abdulloh bin Syaqiq bertanya kepada ‘Aisyah: “Aku bertanya tentang puasa Nabi???”, maka ‘Aisyah menjawab: “Bahwa Nabi berpuasa sampai kami mengatakan; “Nabi telah puasa, Nabi telah puasa”, dan Nabi juga berbuka sampai kami mengatakan: “Nabi telah berbuka, Nabi telah berbuka”. Kemudian ‘Aisyah berkata: “Aku tidak pernah melihat Rosululloh berpuasa sebulan penuh, sejak datang dari Madinah kecuali pada bulan Ramadhan” (HR.Muslim).

Maka puasa sunah tidak dikhususkan pada waktu tertentu, oleh karena itu puasa sunah boleh dilakukan kapan saja kecuali pada bulan Ramadhan, hari ‘Ied, dan hari Tasyriq (Syarah Muslim:8/278).

Adapun beberapa jenis puasa sunah adalah:

1).Puasa enam hari bulan Syawal.

Disunahkan untuk mengikuti puasa Ramadhan dengan puasa enam hari bulan syawal, karena pahalanya seperti puasa satu tahun penuh, akan tetapi puasa ini tidak disyaratkan harus berturut-turut. Rosululloh bersabda: “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diikuti enam hari pada bulan Ramadhan , maka seperti puasa setahun penuh” (HR.Muslim,Abu Daud,Tirmidzi).

Karena satu kebaikan seperti sepuluh kali lipatnya, sebagaimana sabda Rosululloh: “Setiap amalan anak Adam akan dilipat gandakan, satu kebaikan seperti sepuluh kali lipatnya sampai tujuh ratus kali lipatnya” (HR.Muslim). Begitu juga sabda Rosululloh: “Barang siapa berpuasa Ramadhan, maka satu bulan seperti sepuluh bulan, dan puasa enam hari bulan syawal setelah (ied) Fithri, maka itu adalah puasa setahun penuh” (HR.Ahmad).

Maka puasa enam hari bulan syawal disunahkan oleh kebanyakan ulama, diantaranya; Imam Syafi’i, Ahmad, Daud. Akan tetapi Imam Malik, Abu Hanifah, Abu Yusuf berpendapat akan makruhnya puasa ini dengan alasan; ditakutkan orang-orang akan berpendapat bahwa puasa ini adalah wajib dan diikutkan dengan Ramadhan. Akan tetapi alasan ini bertentangan dengan dalil yang jelas akan sunahnya puasa ini, dan juga puasa ini diselingi dengan hari ied Fithri -yang diharomkan berpuasa pada hari tersebut- sehingga ketakutan bahwa puasa ini akan diikutkan dengan puasa Ramadhan menjadi hilang (lihat: Syarah Muslim:8/296-297,cet:Daarul Ma’rifah. Tuhfatul Ahwadzi:3/388-390,cet:Daarul Kutub Al-Ilmi’ah. Al-Mughni:3/102-104,cet:Daarul Baaz).

Imam Nawawi berkata: “Para Sahabat kami (dari kalangan Syafi’iah) berkata; “Lebih baik berpuasa enam hari (bulan Syawal) secara berturut-turut setelah hari (ied) Fithri, apabila dipisah-pisah atau diakhirkan dari awal syawal ke akhir syawal, maka tetap mendapat keutamaan mutaaba’ah (yaitu; mengikuti). Karena itu tetap dikatakan mengikuti puasa Ramadhan dengan enam hari puasa Syawal” (Syarah Muslim:8/297).

2).Puasa bulan Muharom dan puasa ‘Asyuro (10 Muharom).

Disunahkan untuk memperbanyak puasa pada bulan Muharom, berdasarkan sabda Rosululloh: “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Alloh Muharom, dan sholat yang paling utama setelah sholat wajib adalah sholat lail (malam)” (HR.Muslim).

Dan lebih disunahkan lagi untuk berpuasa pada hari ‘Asyuro (10 Muharom), berdasarkan sabda Rosululloh: “Dan puasa hari ‘Asyuro, Aku menyangkanya bisa menghapus (dosa) setahun yang telah lalu” (HR.Muslim). Akan tetapi disunahkan juga untuk berpuasa tanggal 9 Muharom selain tanggal 10 Muharom, berdasarkan hadits Ibnu Abbas: “Ketika Rosululloh berpuasa hari ‘Asyura (10 Muharom) dan memerintah untuk berpuasa pada hari tersebut. Para Sahabat berkata: “Wahai Rosululloh, sesungguhnya itu adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani (Kristen)”. Maka Rosululloh bersabda: “Apabila tahun depan -insyaAlloh- kita akan berpuasa tanggal 9 (Muharom)”. Ibnu Abbas berkata: “Maka tidaklah datang tahun berikutnya kecuali Rosululloh telah meninggal dunia” (HR.Muslim).

Puasa tanggal 9 dan 10 Muharom adalah puasa yang ingin dilakukan Rosululloh karena ingin menyelisihi Yahudi. Barang siapa yang tidak mampu untuk berpuasa 9 Muharom maka cukup berpuasa 10 Muharom dengan niat untuk menyelisihi Yahudi, yang mereka menjadikan hari tersebut hari ied. Maka dia berpuasa (10 Muharom) tidak dengan niat ied, akan tetapi dengan niat mengikuti Nabi Musa yang berpuasa pada hari tersebut untuk bersyukur kepada Alloh karena telah menyelamatkan-Nya dan kaum-Nya dari Fir’aun. Begitu juga Rosululloh dan Para Sahabat hanya berpuasa tanggal 10 Muharom selama sepuluh tahun -sejak datang ke madinah-, dan pada tahun terakhir, baru Rosululloh berkeinginan untuk berpuasa tanggal 9 Muharom. Maka ini menunjukkan bahwa Rosululloh hanya ingin mubalaghoh (berlebih-lebihan) didalam menyelisihi Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani) (Fatawa Abul Hasan,dengan perubahan).

3).Puasa Arofah (9 Dzul Hijjah).

Disebut puasa Arofah, karena puasa itu dilakukan pada tanggal 9 Dzul Hijjah, dimana pada hari itu para jemaah haji wuquf di Arofah. Ini berdasarkan sabda Rosululloh: “Puasa hari Arofah, Aku menyangkanya bisa menghapus (dosa) setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang” (HR.Muslim).

Yang dimaksud dengan dosa (pada hadits di atas) adalah dosa-dosa kecil (Syarah Muslim:8/292). Dan dua tahun pada hadits tersebut memiliki dua penafsiran: (1) Bahwa Alloh mengampuni dosanya pada dua tahun tersebut, atau (2) Alloh menjaganya pada dua tahun tersebut, agar dia tidak berbuat maksiat” (Majmu’:6/404, cet:Daarul Fikr).

Akan tetapi bagi para jama’ah haji disunahkan untuk berbuka, sebagaimana hadits Maimunah: “Bahwa kaum Muslimin ragu akan puasa Nabi pada hari Arofah, maka Aku mengirim kepada Beliau susu, dan Beliau berada di mauqif (Arofah), kemudian Beliau meminumnya dan kaum Muslimin melihat (perbuatan Beliau)” (Muttafaq Alaih). Karena berbuka lebih menguatkan jama’ah haji untuk melakukan manasik haji, dan ini adalah madzhab Imam Syafi’i, Malik, Abu Hanifah, dan kebanyakan Ulama (Syarah Muslim:8/243).

Begitu juga disunahkan puasa pada tanggal satu sampai tanggal sembilan di bulan Dzul Hijjah, ini berdasarkan keumuman hadits Ibnu Abbas, bahwa Rosululloh bersabda: “Tidak ada amal pada sepuluh hari (bulan Dzul Hijjah) yang lebih utama dari beramal pada hari tersebut”. Sahabat berkata: “Tidak juga jihad???”. Rosululloh bersabda: “Tidak juga jihad, kecuali seseorang keluar untuk menghadapi musuh dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatupun” (HR.Bukhori). Dan puasa termasuk amal ibadah, maka puasa masuk dalam keumuman hadits ini (As-Syarhul Mumti’:6/469,cet:Daar Ibnul Jauzi). Akan tetapi tidak disyariatkan berpuasa pada tanggal 10 Dzul Hijjah, karena hari tersebut adalah hari ied Adha.

Perhatian: Ada hadits dari ‘Aisyah: “Saya tidak pernah melihat Rosululloh berpuasa pada sepuluh hari (bulan Dzul Hijjah) sekalipun” (HR.Muslim). Maka Ulama menggabungkan hadits Ibnu Abbas (di atas) dengan hadits ‘Aisyah dengan beberapa cara:

a).Rosululloh meninggalkan amalan tersebut karena ditakutkan akan diwajibkan bagi umat-Nya,

b).Bahwa ‘Aisyah tidak melihat Rosululloh berpuasa tidak melazimkan Rosululloh tidak berpuasa pada hari tersebut ,

c).Mungkin saja Rosululloh berpuasa pada hari tersebut pada sebagian waktu, dan meninggalkan puasa pada waktu yang lain karena sebab safar (bepergian), atau sakit, atau sebab lain (lihat: Fathul Bari:2/534,cet:Daarur Royyan. Majmu’:6/414. Ad-Duroril Mudhiah:1/389,cet:Maktabatul Irsyad).

4).Puasa Daud.

Yang dimaksud puasa Daud adalah berpuasa sehari dan berbuka sehari. Maka ini adalah puasa sunah yang paling baik dan paling dicintai Alloh, ini berdasarkan hadits Abdulloh bin ‘Amr: “Bahwa sholat yang paling dicintai Alloh adalah sholat Nabi Daud, dan puasa yang paling dicintai Alloh adalah puasa Nabi Daud. Bahwa Nabi Daud tidur setengah malam, dan sholat sepertiganya, dan tidur seperenamnya. Dan berpuasa sehari kemudian berbuka sehari”, dalam satu riwayat: “Maka ini adalah puasa yang paling baik” (Muttafaq Alaih).

Akan tetapi puasa ini boleh dilakukan asal tidak menghalanginya dari melakukan ibadah yang wajib, seperti: sholat, atau mencari nafkah buat keluarga, dll. Apabila puasa ini menghalanginya dari sesuatu yang wajib, maka harom baginya puasa ini. Karena sesuatu yang wajib tidak boleh dilalaikan dengan sebab sesuatu yang sunah (As-Syarhul Mumti’:6/474).

Apabila dikatakan: Kenapa Nabi tidak melakukan puasa ini, padahal Beliau telah mengabarkan bahwa ini adalah puasa sunah yang paling baik???. Maka kita katakan: Bahwa Beliau sibuk dengan ibadah lain yang lebih mulia dari puasa sunah yaitu berupa dakwah kepada Alloh. Oleh karena itu, apabila Rosululloh mensunahkan suatu amalan akan tetapi Rosululloh tidak melaksanakannya, maka kita jangan menyangka bahwa Rosululloh meremehkan amalan tersebut, akan tetapi Beliau tidak melaksanakannya karena sibuk dengan ibadah yang lebih mulia dan penting dari amalan sunah (As-Syarhul Mumti’:6/472). Wallohu A’lam. (Bersambung -insyaAlloh-).

Oleh : Abu Thoyyib Sa’ad