Pelajaran dari Kisah Nabi Ibrohim

9 Apr by Admin Web

Pelajaran dari Kisah Nabi Ibrohim

Sesungguhnya Nabi Alloh Ibrohim telah di puji oleh Alloh dalam firman-Nya: “Sungguh Ibrohim adalah seorang imam (yang dapat dijadikan teladan), patuh kepada Alloh, hanif (berserah diri kepada Alloh), dan dia bukan termasuk orang-orang musyrik (yang menyekutukan Alloh)” (An-Nahl:120). Sebab pujian ini karena Ia berhasil melewati cobaan yang diberikan kepadanya dengan sabar dan penuh keyakinan kepada Alloh, salah satunya adalah perintah untuk menyembelih anaknya Ismail. Maka pada kisah ini terdapat banyak pelajaran yang bisa dijadikan teladan.

 

Alloh berfirman: “ (99) Dan Ibrohim berkata: “Sesungguhnya aku harus pergi (menghadap) kepada Tuhanku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku. (100) Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang saleh. (101) Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang halim (sangat sabar). (102) Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, Ibrohim berkata: “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu! Dia (Ismail) menjawab: “Wahai Ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Alloh) kepadamu, Insya Alloh engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar”. (103) Maka ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrohim membaringkan anaknya atas pelipisnya (untuk melaksanakan perintah Alloh). (104) Lalu Kami panggil dia: “Wahai Ibrohim”. (105) Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu. Sungguh demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (106) Sesungguhnya ini termasuk ujian yang nyata. (107) Dan Kami tebus anak itu dengan sembelihan yang besar. (108) Dan Kami abadikan bagi orang-orang yang datang kemudian. (109) Selamat sejahtera bagi Ibrohim. (110) Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik” (Ash-Shoffat:99-110).

 

Pada ayat di atas Alloh mengabarkan tentang kisah Ibrohim, yaitu setelah Alloh menyelamatkannya dari kaumnya, maka Ibrohim berhijrah untuk meninggalkan mereka setelah mereka tidak bisa diharapkan keimanannya. Dan berkata: “Sesungguhnya aku harus pergi (menghadap) kepada Tuhanku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang saleh”. Yaitu anak yang sholeh dan taat yang akan menjadi pengganti kaum dan keluarganya yang ia tinggalkan. Maka Alloh memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Ismail). Dan ketika Ismail agak dewasa dan mampu menuruti perintah Ibrohim serta sanggup berusaha bersamanya, Ibrohim berkata: “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu! Dia (Ismail) menjawab: “Wahai Ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Alloh) kepadamu, Insya Alloh engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar”. Yaitu aku akan sabar dan berserah diri serta mengharapkan pahala dari Alloh. Maka ketika mereka berdua telah pasrah terhadap perintah Alloh, dan bersabar terhadap ujian yang diberikan maka Alloh menjadikan bagi mereka jalan keluar. Bahkan Alloh menggantinya dengan sembelihan yang lain, serta menjadikannya amalan yang disyariatkan bagi orang-orang setelah mereka (Tafsir Ibnu Katsir:4/16-19,dengan perubahan).

 

 

Faidah Dari Ayat Di Atas:

 

1).Pada firman Alloh: “Sesungguhnya aku harus pergi (menghadap) kepada Tuhanku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku”, terdapat beberapa faidah:

a).Berbaik sangka kepada Alloh, ini sesuai dengan hadits: “Aku (Alloh) menurut persangkaan hamba-Ku kepada-Ku” (Muttafaqun Allaih). Bahwa Ibrohim yakin bahwa Alloh tidak akan menyia-nyiakan orang-orang beriman, apalagi seseorang yang menyampaikan risalah dan wahyu Alloh.

b).Seseorang yang berdakwah kepada kebenaran pasti akan dimusuhi, dan ini adalah sunnatulloh. Sebagaimana perkataan Waroqoh bin Naufal kepada Rosululloh -ketika Rosululloh bertanya tentang apa yang dialaminya di gua Hiro’- : “Tidaklah seseorang datang membawa seperti apa yang engkau bawa, kecuali akan dimusuhi” (HR.Bukhori).

c).Ibrohim ketika menghadapi cobaan dari kaumnya bertawakal kepada Alloh dengan mengambil sebab, yaitu berhijroh agar selamat dari cobaan kaumnya. Maka termasuk dari tawakal adalah mengambil sebab.

d).Meninggalkan negeri yang buruk menuju negeri yang baik. Sebagaimana Rosululloh berhijrah dari Makah ke Madinah.

e).Hidayah berasal dari Alloh.

 

2).Pada firman Alloh: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang saleh”, terdapat beberapa faidah:

a).Bahwa para Nabi adalah manusia biasa yang berdoa kepada Alloh, maka mereka tidak berhak untuk disembah. Maka Alloh tidak boleh disekutukan dalam masalah ibadah dengan para Nabi atau yang selain mereka.

b).Sebagai contoh terhadap umat ini, agar seseorang hanya berdoa kepada Alloh tidak kepada yang selain-Nya.

c).Orang yang tidak memiliki anak, hendaknya dia berdoa kepada Alloh dan berusaha. Begitu juga Nabi Zakaria berdoa agar diberikan keturunan, sebagaimana firman Alloh: “Dan ingatlah kisah Zakaria ketika dia berdoa kepada Tuhannya: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkanku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah Ahli Waris yang terbaik” (Al-Anbiya’:89).

d).Menunjukkan akan besarnya manfaat anak sholeh, karena anak sholeh bisa memberikan manfaat setelah kematian orang tuanya, sebagaimana sabda Rosululloh: “Apabila seseorang meninggal dunia maka amalnya akan terputus kecuali tiga pekara: (1) shodaqoh jariah, atau (2) ilmu yang bermanfaat, atau (3) anak sholeh yang mendoakan (kebaikan) kedua orang tuanya” (HR.Muslim).

e).Salah satu cara untuk mendapatkan anak yang sholeh adalah berdoa.

f).Tidak semua Nabi mendapat anak yang sholeh, buktinya Nabi Alloh Nuh memiliki anak yang kafir. Oleh karena itu Ibrohim berdoa agar diberikan anak yang sholeh. Maka semua ini kembali kepada hikmah Alloh.

 

3).Pada firman Alloh: “Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang halim (sangat sabar), terdapat beberapa faidah:

a).Yang dimaksud halim adalah memiliki sifat sabar, akhlaq yang mulia, lapang dada, dan memaafkan orang yang berbuat kesalahan.

b).Kelahiran seorang anak merupakan kabar gembira bagi orang tuanya.

c).Anak yang disembelih oleh Ibrohim adalah Ismail bukan Ishaq, dan ini pendapat yang kuat Insya Alloh.

 

4).Pada firman Alloh: “Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, Ibrohim berkata: “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu! Dia (Ismail) menjawab: “Wahai Ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Alloh) kepadamu, Insya Alloh engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar”, terdapat beberapa faidah:

a).Mimpi para Nabi adalah wahyu.

b).Alloh mencoba Ibrohim dengan cobaan ini, agar hatinya tidak bergantung kepada selain Alloh.

c).Cobaan yang paling berat adalah cobaan pada sesuatu yang kita sayangi, baik terhadap diri sendiri, keluarga, atau harta.

d).Ibrohim bertanya kepada Ismail tentang masalah ini agar terasa ringan bagi Ismail dan tidak melakukan ini dengan terpaksa, agar keduanya mendapatkan pahala. Bukan bertujuan agar Ismail menolak perintah Alloh.

e).Anak yang sholeh tidak akan menolak perintah Alloh walaupun berat.

f).Menunjukkan kesabaran Ismail.

g).Menggantungkan segala sesuatu kepada Alloh, sebagaimana Ismail menggantungkan kesabarannya kepada Alloh dengan berkata: “Insya Alloh”. Maka janganlah kita menggantungkan sesuatu kepada diri kita sendiri, sebagaimana firman Alloh: “Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “Aku pasti melakukan itu besok pagi”. (24) Kecuali (dengan mengatakan), “Insya Alloh” (Al-Kahfi:23-24).

h).Alloh mengabulkan doa Ibrohim dengan memberikannya anak yang sholeh dan taat pada perintah Alloh.

 

5).Pada firman Alloh: “(103) Maka ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrohim membaringkan anaknya atas pelipisnya (untuk melaksanakan perintah Alloh). (104) Lalu Kami panggil dia: “Wahai Ibrohim”. (105) Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu. Sungguh demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (106) Sesungguhnya ini termasuk ujian yang nyata. (107) Dan Kami tebus anak itu dengan sembelihan yang besar. (108) Dan Kami abadikan bagi orang-orang yang datang kemudian. (109) Selamat sejahtera bagi Ibrohim. (110) Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik”, terdapat beberapa faidah:

a).Alloh akan memberikan jalan keluar dari kesulitan bagi orang yang bertakwa dan mengikuti perintahnya. Sebagaimana firman Alloh: “Barangsiapa bertakwa kepada Alloh niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya” (Ath-Tholaq:2).

b).Alloh akan memberi balasan bagi orang bertakwa di dunia maupun di akherat.

c).Amalan yang dilakukan dengan ikhlas akan tetap kekal dan dikenang, bahkan Alloh menjadikan perbuatan Ibrohim suatu syariat yang dijalankan sampai hari Kiamat nanti.

d).Disunahkan untuk berqurban dengan hewan ternak yang terbaik, karena Alloh mengganti Ismail dengan sembelihan yang besar.

e).Besarnya pahala seseorang sesuai kadar cobaan yang didapat, maka semakin besar cobaan yang menimpanya, semakin besar pula pahala yang didapat apabila bersabar. Sebagaimana sabda Rosululloh: “Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya cobaan, dan Alloh apabila mencintai suatu kaum maka Alloh akan menguji mereka. Barangsiapa yang ridho (dengan ujian tersebut) maka dia akan mendapat ridho (Alloh), dan barangsiapa yang murka (dengan ujian tersebut) maka dia akan mendapat kemurkaan (Alloh)” (HR.Tirmidzi).

f).Alloh apabila mencintai suatu kaum, maka akan dicoba dan diuji.

g).Cobaan yang paling berat adalah yang menimpa para Nabi kemudian orang yang semisal mereka. Sebagaimana Rosululloh pernah ditanya: “Siapa di antara manusia yang paling berat cobaannya???”, maka Rosululloh menjawab: “Para Nabi kemudian orang Sholeh kemudian yang semisal mereka dari kalangan manusia. Maka seseorang akan dicoba sesuai dengan kadar agamanya” (HR.Ahmad,Tirmidzi).

h).Cobaan bisa menghapuskan kesalahan. Sebagaimana sabda Rosululloh: “Dan seorang hamba senantiasa akan dicoba sampai dia berjalan di muka bumi tanpa memiliki kesalahan” (HR.Ahmad,Tirmidzi). (Wallohu A’lam).

 

(lihat:Tafsir Ibnu Katsir:4/16-21,Fathul Qodir:4/565-573,Al-Jami Li Ahkamil Qur’an:15/98-112,Tafsir Al-Kabir:13/151-160,Taisir Al-Karimil Rohman:770-771,Al-Bahrul Muhith:9/115-120,Adhwaul Bayan:6/447-449,Nafhur Riih Bi Fawaid Qisshotidz Dzabih).

Oleh : Abu Thoyyib Sa’ad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *